DANI Papap jadi salah satu sosok panutan di scene Bandung Underground, terutama untuk kalangan drumer generasi muda. Bersahaja. Nyantay. Nyaris tanpa ekspresi. Sedikit jeprut. Tapi, kesan itu semuanya hablur manakala ia sudah berada di balik set drum.

Nama Papap sempat begitu identik dengan Jasad. Ia bergabung dengan kugiran death metal asal Ujungberung itu pada 1994, atau lima tahun sebelum Man datang mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan Yadi Behom. Selama 17 tahun bersama Jasad, Papap dianggap memberi sumbangsih tidak kecil terhadap karakter musik band tersebut.

Namun, semua itu tinggal cerita setelah Papap mengalami kecelakaan yang cukup parah pada Mei 2011. Papap sempat gegar otak. Kejadian itu ternyata berekses cukup krusial terhadap karir bermusik Papap bersama Jasad. Papap akhirnya dikabarkan mengundurkan diri dari Jasad.

Soal keluarnya Papap dari Jasad kemudian memunculkan isu yang kurang sedap. Ada yang menyebut Papap mengundurkan diri secara suka rela. Tapi, ada pula isu yang mengatakan ia sebenarnya dipaksa mengundurkan diri. Entahlah mana yang benar. Satu hal yang jelas, Papap sudah menutup buku karir musiknya bersama Jasad. Dan sekarang ia tengah membangun harapan baru bersama Dismemberment Torture, band yang dibentuknya tahun kemarin bersama Glend dari Bloodgush (vokal), Dedra dari Digging Up (gitar), dan Ramon dari Saffar (bas).

Meski band baru, kehadiran Dimemberment Torture sudah banyak ditunggu. Band ini diprediksi bakal jadi jagoan baru death metal. Papap menggandeng tiga energi muda. Yang kemudian jadi pertanyaan, seperti apakah musik Dismemberment Torture? Apakah akan menyerupai Jasad atau justru menampilkan ciri baru yang spesifik. Pada suatu malam Papap berkenan membatalkan seluruh janjinya dengan orang lain, hanya untuk menerima kedatangan reporter kami, Jo Par. Sekitar dua ratus pertanyaan diajukan dan semuanya dijawab. Namun, atas permintaan Papap, sebagian di antaranya tidak dipublikasikan alias off the record. Inilah petikannya.

Dari segi konsep, siapa yang berperan paling besar dalam menentukan proyeksi musik DT?
DT? Darut Tauhid dong. Aa Gym! Hahaha…

Oke! Oke! Dismemberment Torture…
Saya memang sempat menyodorkan ide, pengen musik kayak begini-begitu. Yang lain memberi respons bagus. Lalu kita jalan. Tapi sejauh ini semuanya masih dalam proses.

Dulu Papap sangat identik dengan Jasad. Apakah warna musik Dismemberment Torture mirip Jasad, terutama dalam style drum?
Soal identitas musik Dismemberment Torture akan divonis seperti apa, saya serahkan sepenuhnya pada khalayak. Kalau dianggap mirip Jasad, ya bisa jadi sebab saya 17 tahun di situ dan kebetulan memainkan warna musik yang sama. Saya sendiri suka banget fill drum pada lagu Kujang Rompang. Selain itu saya juga memang penggemar musik seperti yang dimainkan Jasad. Lain halnya jika saya memainkan dangdut, terus orang bilang mirip Jasad. Itu mah kelewatan.

Dangdut?
Ya! Saya suka dangdut. Tapi menurut saya dangdut itu rumit. Karena itulah saya nggak ngulik dangdut. Hahaha…

Proyeksi jangka pendek Dismemberment Torture…
Jangka pendek, lima tahun. Jangka panjang, 25 tahun. Pembangunan di jaman Suharto. Ahhh… nggak ada jangka-jangkaan. Kalo penggaris ada. (Dan kita terbahak mendengar jawaban Papap yang satu ini). Jujur, kita tidak mematok target yang spesifik. Nggak ngoyo. Bisa ber-brutal death ria keluar keringat saat latihan, serta masih bisa memperkosa drum dengan membabi buta, saya sudah cukup senang. Paling bikin lagu baru. Syukur-syukur kalo ada ajakan manggung.

Band death metal sudah sangat banyak, keistimewaan apa yang ditawarkan Dismemberment Torture?
Ya, saat ini banyak sekali band death metal yang bagus. Dan dari dulu saya sangat memperhatikan band-band death metal. Saya suka jika dapat CD album death metal, terus pas lihat band itu manggung kualitas mereka nggak jauh beda dengan yang saya dengar di CD. Soal keistimewaan Dismemberment Torture? Waduh saya bingung harus jawab apa. Soalnya nggak istimewa. Biasa-biasa saja. Bebaskeun we lah…

Scene death metal lagi berada di atas angin. Jika bicara grafik, setelah berada di atas, kemungkinan paling besar adalah menurun. Adakah kemungkinan ke arah sana?
Tergantung attitude. Sepanjang para pelakunya bisa menjaga komitmen seperti membeli merchandise original, bayar tiket waktu nonton, saling support satu sama lain, band berkarya dengan baik, saya yakin tetap akan bertahan. Ini berlaku untuk genre apa pun.

Apa yang harus dilakukan agar death metal tetap ajeg?
Ulah gedag kaanginan. Terus berusaha mencipta karya terbaik. Selalu bersikap positif. What ever you play death metal, grindcore, punk, reggae, ato pop sekalipun.

Personel lain sudah punya band. Akankah ini jadi masalah jika suatu saat Dismemberment Torture berkibar kencang.
Jangan terlalu memikirkan Dismemberment Torture. Kalau ada bentrok jadwal manggung, dahulukan band asal. Ketika mengajak mereka, saya juga sudah minta ijin dari semua. Tapi saya harap kalau ada apa-apa lebih baik dibicarakan. Kalau sekiranya mengganggu, mendingan jangan. Dibawa santai saja, biar woles. Lagian Dismemberment Torture mah band kecil.

Ada sesuatu yang mau dibicarakan soal Jasad? Curhat lah…
Curhat tentang Jasad? Asa teu nyambung ieu mah. Mun curhat soal Dismemberment Torture, karek ka sayah. Saya suka Jasad. Jujur saya nggak tahu Jasad sekarang. Yang jelas, kita harus saling dukung. Apalagi kita satu scene.

Pertimbangan Papap waktu memilih personil lain untuk Dismemberment Torture?
Nggak ada pertimbangan. Semuanya ujug-ujug klop. Serta merta serba pas dengan apa yang saya ingin mainkan.

Omong-omong, Dismemberment Torture sedang mengincar gigs apa nih?
Ahhh enggak lah! Saat ini kita hanya berupaya melakukan apa pun sebagus mungkin. Berusaha pol-polan. Soalnya tanggung kalo setengah-setengah. Jika kita bagus, insya Alloh nanti juga ada jalan.

Oia, gimana jika Papap diangkat jadi manajer Persib?
Ajig. Gobog. Eta gue banget. Kalau jadi manajer Persib, semua pemain saya pecat. Saya mau beli Leonel Messi, Gianlugi Buffon, dan lain-lain. Mun ngomongkeun Persib, sok aral aing mah. Piraku kudu ku aing distrikeranana! Hahahaha….

Pilih mana, sepanggung dengan Slayer atau God Bless?
God Bless dong. Dulu jaman SD/SMP, saya girang bukan kepalang waktu lihat God Bless di TVRI, di acara Kamera Ria dan Selekta Pop. Mereka biasanya muncul di akhir-akhir acara. Diselingi lawakan Jojon, Komar, dan Tomtam Grup. Hahaha…

Wew kamana wae…
Ya, saya pilih God Bless. Soal Slayer, saya masih ingat dulu beli kaset maen asal hantam. Yang penting gambar sampulnya serem. Ternyata saya baru tahu kalo itu kaset Slayer. Saya beli kaset itu hasil ngumpulin dari uang jajan. Alhasil, pergi ke sekolah saya harus jalan kaki lantaran duitnya habis dibeliin kaset.

Jika dapat kesempatan manggung di luar negeri, pengen di mana, di acara apa?
Di Gedung Putih kayaknya keren tuh. Bebas di mana pun, asal jangan di Kutub Utara. Soalnya saya nggak kuat dingin.

Pilih mana, dikasih uang satu miliar atau diangkat jadi drumer Suffocation?
Ya mending dapat duit satu miliar. Bisa pake nonton atawa ngundang Suffocation sekalian. Saya upah mereka untuk menghibur tetangga. Tapi, emangnya siapa yang mau ngasih saya uang satu miliar. Pasti baru dapat SDSB yah!!!

Menurut Papap, apakah scene metal di Bandung sudah berada di jalur yang benar?
Yesss!!! Di sini semuanya ada. Komplit. Segala jenis musik ada, mulai yang modern sampai tradisional.

Kenapa milih nama Dismemberment Torture? Nggak kepanjangan…
Sengaja milih nama panjang dan membingungkan, biar nggak gampang diingat.

Tipikal death metal Bandung seperti apa sih?
Tipikal death metal Bandung itu Amerika banget. Nggak kepalang berisik, nggak kepalang cepat. Tapi ritmenya masih enak di telinga.

Kalo nggak diakhir, interview ini bisa sampe lebaran monyet. Oke deh, terima kasih atas waktunya. Sumpah, saya lemas karena tertawa terus. Mohon maaf bila ada salah-salah tanya!
Hahaha… sama-sama! Sumuhun dihapunten pisan, tapi ulah sakali-kali deui bisi dibejakeun ka ABRI.

Mau titip pesan buat barudak Bandung?
Silakan lakukan apa pun yang kalian mau. Yang penting positif. Jangan merugikan orang lain. Satu lagi, mari kita buktikan slogan panceg dina galur.



This entry was posted on Thursday, March 15th, 2012 at 5:50 am.
Categories: Interview.